Hari Gini, Suka "Nge-Banggai Nasab?? Apa Kata Dunia...!



Pontianak - #Kita Ini Sama

Hari gini Suka  “Nge-Banggain  Nasab??  Apa Kata Dunia…!


Salah satu prinsip yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupan manusia adalah prinsip kesamaan dan kesetaraan hak manusia di muka hukum (Equality before The Law).  Islam sangat menjunjung tinggi hak-hak kemanusiaan. Sebagai manusia, semuanya sederajat, dalam artian bahwa semua manusia di hadapan Tuhan adalah sama, tanpa membedakan kedudukan, kekayaan, keturunan, suku bangsa dan sebagainya. Perbedaan derajat hanya terletak pada tingkat keimanan dan ketakwaan masing-masing.

Banyak sekali ayat-ayat Alquran yang memuat prinsip-prinsip egaliter dalam Islam, salah satu di antaranya tergambar jelas dalam QS.al-Hujurāt (49): 13. Jum`at kemarin, sebelum berangkat menunaikan shalat Jum`at, saya sempat membaca sejenak ulasan tafsir ayat ini dalam kitab Tafsir al-Kabir karya Ar-Rāzi.

Kitab Tafsir yang memiliki nama lain _“Mafātīh al-ghayb”_ ini memang menyajikan pembahasan yang cukup menarik dan komplit. Ayat-ayat Alquran diulas panjang lebar secara ilmiah dengan metode tahlili, yang juga dengan mendasarkan pada teori-teori sains, filsafat dan teologi. Sehingga tak heran apabila kitab ini ditulis sampai belasan jilid. Kitab yang juga masyhur dengan sebutan Tafsir ar-Rāzi ini sendiri ditulis oleh ulama tafsir terkemuka, yaitu Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin Hasan bin Husein at-Tamimy ar-Rāzi, atau yang sering dijuluki dengan Fakhruddin ar-Rāzi (544 - 606 H./1150 – 1210 M). Ulama kelahiran Ray (Teheran) ini tercatat sebagai tokoh multi talenta. Selain pakar dalam bidang tafsir, beliau juga ulama yang ahli dalam bidang ilmu Kalam, ilmu Ushul, ilmu astronomi, filsafat, dan kedokteran, serta beberapa disiplin keilmuan lainnya.

Di antara ulasan tentang kandungan QS.al-Hujurāt (49): 13, -ayat Alquran yang menekankan prinsip egaliter dan kesetaraan manusia-  Ar-Rāzi menyatakan:

الأمور التي يفتخر بها في الدنيا وإن كانت كثيرة لكن النسب أعلاها ، لأن المال قد يحصل للفقير فيبطل افتخار المفتخر به ، والحسن والسن ، وغير ذلك غير ثابت دائم ، والنسب ثابت مستمر غير مقدور التحصيل لمن ليس له فاختاره الله للذكر وأبطل اعتباره بالنسبة إلى التقوى   (تفسير الرازي - ج 14 / ص 192)

_Banyak hal di dunia ini yang sering dibangga-banggakan oleh manusia, namun yang paling dominan adalah aspek nasab/keturunan. Harta dapat diraih oleh seseorang melalui usaha, paras yang tampan, usia muda dan hal lainnya tidaklah permanen, akan tetapi kemulian nasab/keturunan akan selalu melekat dalam dirinya dan tak dapat diupayakan oleh orang lain yang tak memilikinya.  Maka Allah swt menjadikannya sebagai objek kajian dalam ayat ini, dan menghapuskannya dengan nilai takwa.

Ar-Rāzi juga menuturkan, penegasan Allah swt. dalam ayat ini  bahwa manusia diciptakan (dari laki-laki dan perempuan), dan dijadikan oleh Allah (berbangsa-bangsa dan bersuku-suku), mengisyaratkan agar umat manusia tidak membangga-banggakan keturunan (nasab). Sebab nasab bukanlah hasil usaha mereka, maka bagaimana mungkin mereka membanggakan sesuatu yang bukan hasil upaya sendiri?

{ خلقناكم وجعلناكم } إشارة إلى عدم جواز الافتخار لأن ذلك ليس لسعيكم ولا قدرة لكم على شيء من ذلك ، فكيف تفتخرون بما لا مدخل لكم فيه؟  (تفسير الرازي - ج 14 / ص 193)

Prinsip kesetaraan manusia, tanpa melihat kedudukan dan nasab yang dimiliki, berlaku untuk semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali, bahkan termasuk untuk mereka yang masih memiliki pertalian nasab dengan nabi. Ar-Rāzi kembali mempertegas hal ini dengan menyatakan:

أثبت النبي صلى الله عليه وسلم الشرف لمن انتسب إليه بالاكتساب ، ونفاه لمن أراد الشرف بالانتساب ، فقال : « نحن معاشر الأنبياء لا نورث » وقال : « العلماء ورثة الأنبياء » أي لا نورث بالانتساب ، وإنما نورث بالاكتساب (تفسير الرازي - ج 14 / ص 193)

_Nabi Muhammad saw. menetapkan kemulian hanya bagi orang-orang yang meraih “nasab kepada nabi” melalui upaya nyata (iktisāb), bukan semata-mata faktor nasab. Nabi bersabda: “Kami para nabi tidak dapat diwarisi”. Beliau juga bersabda: “Ulama adalah pewaris para nabi”. Yakni, kemuliaan para nabi tidak dapat diwarisi melalui nasab, melainkan melalui adanya upaya (iktisāb).

Ar-Rāzi juga mengutip sebuah kisah, bahwa di Khurasān (wilayah bagian Iran, Afganistan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan) terdapat seorang keturuan bani `alawiy yang fasiq dan mantan budak hitam yang `alim dan menjadi panutan masyarakat.

Suatu ketika, saat menuju masjid, ia berpapasan dengan sang syarif dalam keadaan mabuk. Seketika, orang-orang sekitar segera menghalaunya menjauh dari jalanan agar tidak menghalangi perjalanan sang mantan budak hitam yang `alim. Mendapat perlakukan seperti itu, Syarif -pun¬ marah dan berkata: “Hai budak hitam, hai kafir anak si kafir, aku adalah keturunan Rasulullah, aku mereka hina, dan engkau dimuliakan, aku direndahkan dan engkau mereka sanjung, aku mereka remehkan sementara engkau diagungkan “.

Mendengar umpatan tersebut, dengan tenang seykh-pun menjawab: “Wahai tuan yang mulia, batinku putih, sementara batinmu hitam, sehingga orang-orang melihat putihnya hatiku mengalahkan hitamnya rupaku. Aku mengambil jalan kakekmu (nabi), sementara engkau mengikuti jejak bapakku (kafir), maka mereka melihat aku dalam jejak kakekmu, dan melihat dirimu berada pada jejak bapakku, dan mereka mengira aku adalah keturunan kakekmu dan engkau adalah anak bapakku, sehingga mereka memperlakukan aku seperti halnya mereka memperlakukan kakekmu (memuliakan), dan memperlakukan dirimu sebagaimana mereka memperlakukan bapakku yang kafir.

Last but not least, keagungan nasab merupakan anugerah Tuhan _(giving)_ yang patut disyukuri. Tidak semua orang memilikinya. Akan tetapi, kemulian nasab tanpa dibarengi dengan kesalehan perilaku dan kemuliaan amal hanyalah merupakan hal yang konyol dan sia-sia. Dengan kata lain, -meminjam istilah kalangan milenial- , hari gini, masih suka nge-banggain nasab, apa kata dunia ?

Oleh : Buhori, M.Pd (Aktivis Akademisi IAIN Pontianak)

https://kita-ini-sama.blogspot.com/2020/01/hari-gini-suka-nge-banggai-nasab-apa.html

0 Komentar "Hari Gini, Suka "Nge-Banggai Nasab?? Apa Kata Dunia...!"

Posting Komentar