Kemanakah Ruh Pasca Kematian !
Pontianak, #Kita Ini Sama
(Bagian Pertama)
Oleh: Kang Hari
Membincangkan persoalan kematian yang ditandai dengan berpisahnya ruh dari jasad, memang terkadang “ngeri-ngeri sedap”. Kematian merupakan sebuah kepastian yang tak mungkin dihindari. Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan melewati proses kematian, hanya saja tak dapat dipungkiri, banyak yang merasa takut untuk menghadapinya, atau bahkan untuk sekedar membicarakannya.
Manusia terdiri dari dua subtansi, yaitu subtansi jasadi yang konkrit dan subtansi ruh yang bersifat gaib. Allah swt. menegaskan bahwa persoalan ruh ini merupakan urusan Tuhan, dalam artian Tuhan lah yang mengurus ruh, dan Dia pula yang Maha Mengetahui hal-ihwal tentang ruh, sementara manusia hanya sedikit sekali pengetahuan tentang nya (QS.Al-Isra`/17: 85). Ruh merupakan hal gaib dan karnanya ia menjadi sebuah misteri. Kemisteriannya melebihi kemisterian nasib “jomblower ngenes” yang hidup dalam ketidakpastian, menanti datangnya jodoh yang masih terselimuti kabut misteri. Sehingga membicarakan persoalan ruh, kemanakah ruh setelah kematian, tak ubahnya perbincangan para jomblower yang asyik membahas dinamika kehidupan rumah tangga. Lebih banyak sekedar meraba-raba, berdasarkan informasi yang terbatas, tanpa bermodalkan pengalaman empirik sama sekali. Sehingga tak ayal banyak terjadi perbedaan pandangan di sana-sini.
Pada majlis yasinan Malam Jum`at kemarin, terdapat salah seorang jamaah yang kembali melontarkan pertanyaan; kemanakah ruh itu setelah dicabut dari tubuh ? Jamaah yang satu ini memang terkenal tinggi rasa keingintahuannya dan tidak mudah puas dengan jawaban yang singkat dan sederhana. Sehingga disela menjawab pertanyaannya, saya sering berseloroh: _"puas tidak puas, ya puas-puasin saja, karena saya bukan alat pemuas”_
Dalam memberikan ulasan persoalan ini, pertama yang perlu dipaparkan adalah fase kehidupan yang dilalui manusia. Fase pertama berawal dari fase pada alam ruh, yakni alam dimana awal mula semua ruh dicipta, sebelum jasad ini dicipta, bahkan sebelum Adam turun kedunia. Kemudian Allah swt. mengambil persaksian ruh akan ketuhanan-Nya. Hal ini tergambar dalam QS. Al-A`raf (7): 172. Fase kedua adalah kehidupan ruh dalam rahim seorang ibu semenjak usia kandungan 4 bulan atau 120 hari (QS.As-Sajadah/32: 8-9). Kemudian dilanjutkan pada tahap kehidupan dunia, yang diawali sejak manusia dilahirkan ke muka bumi hingga kematian menjemputnya. Fase selanjutnya adalah alam barzakh atau alam kubur. Fase ini merupakan titik awal perjalanan ruh sebelum masuk ke alam akhirat atau alam keabadian. Gambaran akan keberadaan alam ini dapat ditelusuri pada QS. Ar-Rahmān (55): 19-20, Al-Mukminūn (23): 100, dan hadis nabi yang diriwayatkan oleh As-Suyūti dalam dalam al-Jāmi` As-Shaghīr; _“alam kubur merupakan awal mula persinggahan dari alam akhirat”_. Fase akhir dari perjalanan kehidupan manusia adalah alam akhirat. Kehidupan yang abadi, di mana manusia sejak manusia pertama hingga yang terakhir dijadikan akan dikumpulkan dan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya. Gambaran siklus kehidupan yang dilalui manusia ini terurai dalam QS. Al-Hajj (22): 5.
*Rute Perjalan Ruh Sesaat Setelah Kematian*
Disebabkan ruh merupakan perkara gaib yang tidak bersumber dari wilayah empiris, maka sumber-sumber primer yang dapat dijadikan sebagai rujukan adalah informasi dari yang maha mengetahui dan yang diberi tahu. Dalam Islam, dua sumber utama tentulah merujuk pada teks-teks Alquran dan hadis.
Imam Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa`i meriwayatkan hadis yang panjang dari Al-Barra bin `Azib:
_Sesungguhnya hamba yang beriman ketika hendak meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah malaikat dari langit, wajahnya putih, wajahnya seperti matahari. Mereka membawa kafan dari surga dan hanuth (minyak wangi) dari surga. Merekapun duduk di sekitar mayit sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut . Dia duduk di samping kepalanya, dan mengatakan, ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan ridha-Nya.’ Keluarlah ruh itu dari jasad, sebagaimana tetesan air keluar dari mulut ceret, dan langsung dipegang malaikat maut. Para malaikat yang lain tidak meninggalkan walaupun sekejap, dan mereka langsung mengambilnya dari malaikat maut. Mereka memberinya kafan dan hanuth itu. Keluarlah ruh itu dengan sangat wangi seperti bau parfum paling wangi yang pernah ada di bumi. Para malaikat inipun naik membawa ruh itu. Setiap kali ketemu dengan malaikat yang lain, mereka akan bertanya: ‘Ruh siapakah yang baik ini?’ Mereka menjawab, ‘Fulan bin Fulan’ – dengan nama terbaik yang pernah dia gunakan di dunia –. Hingga sampai di langit dunia. Mereka minta agar pintu langit dibukakan, lalu dibukakan. Mereka naik menuju langit berikutnya, dan diikuti para malaikat langit dunia. Hingga sampai di langit ketujuh. Kemudian Allah berfirman:_
اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِي فِي عِلِّيِّينَ وَأَعِيدُوهُ إِلَى الأَرْضِ فَإِنِّي مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى
_‘Tulis catatan amal hamba-Ku di `illiyyīn. Kembalikan hamba-Ku ke bumi, karena dari bumi Aku ciptakan mereka, ke bumi Aku kembalikan mereka, dan dari bumi Aku bangkitkan mereka untuk kedua kalinya.” Maka dikembalikanlah ruhnya ke jasadnya. Kemudian datanglah dua malaikat kepadanya dan mendudukkannya…._ (teks hadis berikutnya menceritakan tentang pertanyaan malaikat di alam kubur).
Hadis di atas menggambarkan peristiwa yang dialami ruh seorang mukmin sesaat setelah dicabut dari tubuh hingga awal mula masuk ke alam kubur. Fase dicabutnya ruh, sampai jasad dikuburkan dan dimulainya pertanyaan malaikat di alam kubur, bagi ruh seorang mukmin, merupakan awal perjalanan kebahagiaan yang abadi, dimana ia akan diperlihatkan keindahan surga dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya, sehingga ruh akan senang dan bahagia, dan tidak akan pernah merasakan kesedihan lagi selamanya.
Dengan berpijakan hadis di atas, dan beberapa hadis lainnya, Jumhur Ulama, termasuk di antaranya Imam As-Shuyuti, Imam As-Subki dan Ibnu Taimiyah berpandangan bahwa ruh akan dikembalikan lagi ke dalam jasad manusia sesaat setelah ia dimakamkan dalam kubur. Hanya saja kondisinya tidaklah sama tatkala ruh itu bersemayam dalam tubuh saat ia hidup di alam dunia. Bagaimana kondisi persis kehidupan ruh di alam barzah ini merupakan perkara gaib, yang masuk pada ranah transenden, jauh dari wilayah empirik.
Bagaimanakah gambaran perjalanan ruh orang yang ingkar kepada Allah swt. dan bagaimana pula kondisi keberadaan ruh di alam barzah ?
Silahkan ikuti edisi berikutnya…!!!

0 Komentar "Kemanakah Ruh Pasca Kematian !"
Posting Komentar