Kemana Ruh Pasca Kematian (Edisi Kedua : Kondisi Ruh Orang Kafir)
14 Januari 2020
Edit
![]() |
| Foto Ilustrasi tentang Ruh Manusia Ketika di Cabut oleh Malaikat. |
Pontianak, #Kita Ini Sama
(Bagian Kedua: Kondisi Ruh Orang Kafir)
Oleh: Buhori, M.Pd (Aktivis Akademisi IAIN Pontianak)
Dalam pembahasan sebelumnya telah diulas gambaran perjalanan ruh orang mukmin sesaat setelah kematian sampai dikuburkan. Berikutnya akan dipaparkan tentang kondisi perjalanan ruh orang kafir -yang ingkar kepada Allah SWT sejak mulai dicabutnya ruh dari jasad hingga memasuki alam kubur. Untuk memberikan rangkaian perjalanan ruh ini, penulis masih mengacu pada hadis nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud dan Nasa`i, dari Barā` bin `Âzib berikut:
…Sementara hamba yang kafir, ketika hendak meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah para malaikat dari langit, yang bengis dan keras, wajahnya hitam, mereka membawa Masuh (kain yang tidak nyaman digunakan) dari neraka. Mereka duduk di sekitar jenazah sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut, dan duduk di samping kepalanya. Dia memanggil, “Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju murka Allah”. Ruhnya ketakutan, dan terpencar ke suluruh ujung tubuhnya. Lalu malaikat maut menariknya, sebagaimana gancu bercabang banyak yang ditarik dari wol yang basah. Sehingga membuat putus pembuluh darah dan tulang-belulang. Ia langsung dipegang malaikat maut. Para malaikat yang lain tidak meninggalkan walaupun sekejap, dan mereka langsung mengambilnya dari malaikat maut. Kemudian diberi “masuh” yang mereka bawa. Ruh ini keluar dengan membawa bau yang sangat busuk, seperti busuknya bau bangkai yang paling busuk yang pernah ada di muka bumi. Merekapun naik membawa ruh ini. Setiap kali mereka melewati malaikat, malaikat itupun bertanya, ‘Ruh siapakah yang busuk ini?. Mereka menjawab, ‘Fulan bin Fulan.’ – dengan nama yang paling buruk yang pernah dia gunakan ketika di dunia – hingga mereka sampai di langit dunia. Kemudian mereka minta dibukakan, namun tidak dibukakan. Ketika itu, Rasulullah saw. membaca firman Allah SWT:
لا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ (الأعراف: 40)
Kemudian Allah swt. berfirman; ‘Tulis catatan amal hamba ini di “Sijjīn”, di bumi yang paling dasar.’ Kemudian dikatakan, Kemudian ruhnya dilempar dengan begitu keras.
Selanjutnya Rasulullah saw. membaca firman Allah:
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ (الحج: 31)
"Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh" (QS.al-Hajj: 31)
Selanjutnya, ruhnya dikembalikan ke jasadnya, dan datanglah dua malaikat yang mendudukkannya, untuk kemudian mengintrogasinya…
As-Suyūthī dalam kitab Al-Jāmi` Al-Kabīr Juz 1 (Maktabah Syamilah: 6580) memberikan ulasan terkait kualitas hadis yang sangat panjang ini. Menurutnya, banyak ahli hadis, di antaranya Imam Ahmad, Abu Daud, Al-Hakim dan Baihaqi, yang meriwayatkan hadis ini dan menilainya sebagai hadis shohīh. Ibnu Mundih juga menyatakan bahwa sanad hadis ini muttashil (bersambung) dan masyhur. Sedangkan Abu `Uwānah berpendapat bahwa kesahihan hadis ini masih diperselisihkan oleh sebagian kalangan ahli hadis.
Selain itu, Ibnu Majah (4403) juga meriwayatkan sebuah hadis dari Abi Hurairah yang menggambarkan peristiwa kematian seorang hamba. Nabi Muhammad SAW. bersabda:
"Jika orang itu buruk, maka malaikat akan berkata, “Keluarlah wahai jiwa yang buruk, dahulu engkau berada di tubuh yang buruk. Keluarlah dalam kondisi hina. Beri kabar gembira dengan Hamim dan Ghossak dan lainnya berbentuk berpasangan. Senantiasa dikatakan seperti itu sampai (ruhnya) keluar. Kemudian ia dinaikkan ke langit. Namun tidak dibukakan pintu baginya. Dikatakan, “Siapa ini? dijawab, “Fulan. Dikatakan, “Tidak ada selamat datang dengan jiwa yang buruk, yang dahulu berada dalam tubuh jasad yang buruk. Keluarlah dalam kondisi hina. Sesungguhnya dia tidak dibukakan pintu-pintu langit. Maka dilemparkannya dari langit kemudian sampai ke kuburan” (Sunan Ibn Mājah, Juz 12, hal. 469).
Dua hadis di atas menggambarkan perjalanan ruh orang kafir setelah dicabut dari raganya. Ia akan diberi kabar dengan neraka dan kemurkaan Allah, kemudian dinaikkannya dalam kondisi busuk, hina dan ketakutan. Pintu-pintu langit tidak dibukakkan. Kemudian dilemparkan ke bumi dan dikembalikan ke jasadnya. Masa antara dicabut ruh dan dikuburkan serta pertanyaan di kubur bagi orang kafir juga akan menjadi titik awal kesengsaraannya dalam melewati alam barzakh hingga sampai masuk ke alam akhirat.
Orang yang Baru Meninggal dapat Mengetahui Orang yang Mengurus Jenazahnya.
Dalam kitab Busyra Al-Ka`īb biliqā`i al-Habīb (1988: 54), Imam As-Suyūthī menjelaskan bahwa ruh orang yang baru meninggal dapat melihat pada jasadnya yang sedang dimandikan, dikafani dan diurus oleh orang lain. Beliau membuat satu tema husus untuk membahas hal ini dalam kitabnya dengan mengutip beberapa hadis. Di antaranya adalah hadis yang ditakhrij oleh Imam Ahmad dalam Musnad nya, dan Imam Thabrāni dalam kitab “al-Awsath”: Diceritakan dari Abi Sa`īd al-Khudrī ra, bahwa nabi Muhammad saw bersabda:
إن الميت يعرف من يُغسّله ويكفنه ويحمله ويدليه في قبره (رواه أحمد)
“Sesungguhnya orang yang meniggal dapat mengetahui orang-orang yang sedang memandikan, mengkafani, membawanya dan yang menguburkannya” (HR. Ahmad).
Hadis lainnya diriwayatkan dari `Amr bin Dinār, bahwa nabi bersabda:
ما من ميّت يموت إلا روحه في يد ملك ينظر إلى جسده، كيف يُغسّل وكيف يُكفّن وكيف يُمشى به ويقال له وهو على سريره: "إسمع ثناءَ الناس عليك"
“Tidaklah seseorang meniggal dunia melainkan ruhnya berada dalam genggaman malaikat dan ia dapat melihat jasadnya, bagaimana jasadnya dimandikan, dikafani, dan dibawa (ke kuburan), dan dikatakan kepadanya, sementara ia berada di atas ranjangnya,; “dengarkanlah pujian manusia terhadapmu”.
Hadis yang kedua ini ditakhrij oleh Abu Na`īm dalam kitab Hilyatu al-Awliyā` dan Ibnu Rajab dalam kitab Ahwāl al-Qubūri, serta dishahihkan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab Ar-Rūh.
Di akhir pembahasannya, As-Suyūti mengutip sebuah riwayat dari Ibnu Abi Dunyā, dari Bakar al-Muzani, ia berkata: “saya diceritakan bahwa orang yang meninggal akan merasa senang apabila segera dikuburkan”. Dalam riwayat yang lain, yang dikeluarkan dari Ayyub dikatakan:
من كرامة الميت على أهله تعجيله إلى حفرته (ذكره أبن رجب في "أهوال القبور")
“Diantara bentuk memuliakan orang yang sudah meniggal bagi keluarganya adalah hendaknya menyegerakan proses penguburannya”.
Dimanakah bersemayamnya ruh setelah masuk ke alam kubur ?
Bersambug...!!!
P O S T I N G A N T E R K A I T
